Prolog
Tanggal Kelahiran Kedua
[SYSTEM NOTICE]
JUDUL: PERHITUNGAN MUNDUR DIMULAI
WAKTU: 0:00:00 SEBELUM KEBANGKITAN
STATUS: JIWA TERDAFTAR — "THE FALLEN ONE"
CATATAN SISTEM: Kekuatan utama terkunci. Unlock membutuhkan waktu, ingatan, dan satu orang yang kau perbolehkan masuk.
Aku sudah mati sebelumnya. Bukan yang dramatis, kok. Cuma tubuh tua yang capek, satu malam, lalu gelap. Habis. Aku sudah lama nungguin gelap itu, karena setelah hidup segitu lamanya, mati itu cuma istirahat panjang.
Ternyata istirahatnya batal. Aku kebangun lagi umur delapan tahun. Dapur kayu. Bau masakan. Lantai kotor. Dan ada perempuan yang sibuk narik kupingku karena panggilannya nggak kuanggurin.
"Ashira!" Suaranya kesal. "Telinga kamu ke mana pas Ibu manggil?"
Aku menunduk. Masih syok. Otakku belum nyambung: tadi malam aku ratusan tahun, sekarang delapan tahun, di dapur kayu, sama perempuan muda yang ngaku ibuku.
Ingatan dari "sebelum" keluar campur aduk. Perang. Muka-muka orang yang udah lupa bentuknya. Satu pengkhianatan yang dulu bikin aku hancur. Dan yang paling di ujung: gelap tadi.
Aku pejamkan mata. Pelan. Itu bisa diurus nanti. Yang jelas sekarang, aku harus diem, nyatu sama dunia ini, dan belajar dulu.
Karena aku ingat satu hal yang paling penting:
Dunia ini bukan rumahku. Tubuh anak umur delapan tahun ini cuma tempat nginap sementara.
"Makan dulu," kataku, suara kecil yang belum pernah kupakai.
"Lihat, bisa bangun," ibu setengah nggak percaya. "Biasanya yang paling susah."
"Kali ini aku kena rejeki."
Empat tahun berikutnya, aku mati-matian jadi anak normal.
Sekolah? Nggak ada. Dunia ini — Altheria, katanya — nggak kenal sistem pendidikan kayak di dunia yang dulu. Yang ada cuma kampung, ladang, hutan, dan kota yang nyala di kejauhan. Kata orang, kota itu dibangun manusia pake besi dan sihir, dua teknologi yang berjalan bareng.
Tapi yang paling beda dari dunia ini bukan itu.
Di sini ada monster. Nyata. Bukan dongeng pengantar tidur.
Pertama kali aku liat Pak Tua dimakan monster pas lagi di ladang, aku nggak nangis. Aku cuma memilih bungkam: masyarakat sini punya aturan nggak tertulis — kalau kamu nggak bisa bunuh monsternya, kamu nggak berhak komentar apa-apa. Dan anak umur delapan tahun jelas nggak punya hak itu.
Tapi aku denger sesuatu dari penyihir kampung — dan itu bikin aku langsung fokus.
"Kabar dari ibu kota: gerbang langit udah kebuka."
Gerbang langit.
Orang-orang yang lewat dari situ — mereka disebut Pahlawan — katanya datang dari "bumi". Kabarnya bisa ngeluarin api dari telapak tangan, bisa teriak sampe guncang batu, dan yang paling liar:
Semuanya datang dari satu kelas. Tiga puluh orang. Satu kelas sekolah biasa, keseret lewat gerbang.
Dan tiba-tiba, semua jadi kebalik. Yang biasa dianggap remeh jadi pusat perhatian.
Aku nutupin telingaku. Pelan.
Gerbang langit itu... pernah aku liat sebelumnya. Di "sebelum". Waktu itu namanya bukan gerbang, tapi dinding. Dan ada yang buka dari dalam.
Malam itu aku kebangun pas waktu sunyi. Bulan keliatan besar, kuning pucat, nggantung tinggi. Aku berdiri di halaman, ngeliatin bayanganku sendiri yang kepanjangan ke arah kampung.
Dan satu pikiran muncul di kepala:
"Kalau gerbang kelas itu dibuka orang yang sama dari "sebelum" — atau kalau bukan dia, terus siapa yang ngebuka dari dalam? — berarti jalan antar dunia kebuka lagi. Satu kelas masuk hari ini, besok mungkin seratus, lusa mungkin satu kota. Dunia ini bakal kerebutan — dan aku masih cuma anak umur delapan tahun."
Diem.
Lalu, sesuatu dateng. Bukan suara. Bukan aroma. Ada yang mendorong dari dalam kepalaku, dan bilang: "Coba."
Dan buat pertama kalinya dalam empat tahun kehidupan baru, aku denger nama lamaku.
[SYSTEM NOTICE]
RANAH: RULE SETTING — VALIDASI "THE FALLEN ONE"
RULE 1: "SELAMA JEDA NAFASKU, KAU NIAT BERDIRI DI SANA."
PASANGAN: ...?
CATATAN: Bayaran belum ditentukan. Aturan menunggu nama.
Aku narik napas. Panjang. Lalu, di tengah kesunyian, kuucapin nama yang udah ribuan kali kubuang,
"Echo."
Dan dari pojok mata, bayanganku sendiri — diam-diam — nyengir.
— AKHIR PROLOG —
Bab 1
Aturan Pertama
[SYSTEM NOTICE]
STATUS: JIWA "THE FALLEN ONE" — REKONSILIASI DIMULAI
REKON: 1,3%
SARAN: Jangan percaya sistem. Percaya pada aturan yang bisa kau pecahkan — karena kau yang menulisnya.
Echo bukan hantu. Echo itu diriku dari masa lampau — sisa kesadaran yang nempel di jiwa. Dia bisa ngomong kapan aja selama situasinya nggak genting, dan dia selalu objektif.
"Kau buang aku," dia ngomong. Suaranya datar, dari dalem bayangan, tanpa wajah. "Empat tahun. Kau benci aku."
"Bukan," jawabku sambil nutup pintu. "Aku benci dunia yang bikin aku harus butuh kamu."
"Dunia nggak pernah butuh siapa-siapa. Itu cuma efek samping dari keyakinanmu kalau kamu tanggung jawab atas segalanya."
Bener juga. Nggak enak dikoreksi.
"Kelas pahlawan udah masuk ke Altheria," ucapku. "Tiga puluh orang. Gerbang langit. Besok mereka bakal jadi berita utama kota."
Echo nggak jawab. Lama.
"Aku inget aturan pertama itu." Aku nahan napas. Isi aturannya: selama aku masih napas, selama aturan itu jalan, akulah yang nentuin siapa yang boleh gerak, siapa yang nggak.
"Terus bayarannya?" tanya Echo.
"Belum kuputusin."
Echo diem sesaat.
"Itu," ucapnya, "justru yang paling bahaya."
[JENDELA KARAKTER — ASHIRA "THE FALLEN ONE" (UMUR 12)]
[Tinggi: ±140 cm — masih tumbuh, postur sudah tegak]
[Rambut: ash-blond keperakan, swept-back berlapis, poni panjang menutupi sebagian satu mata]
[Mata: abu-abu kebiruan, almond, tenang — tidak ramah]
[Pakaian: kemeja kusam, celana gelap, sepatu sederhana]
[Kekuatan: RULE SETTING — aktif; rekonstruksi jiwa 1,3%]
[RULE SETTING]
DITETAPKAN: ASHIRA
LINTASAN: 40 TAHUN KE DEPAN
ISI ATURAN: "Aku yang memilih kapan dunia mulai bergerak di bawah bayangan."
BAYARAN: 1 kenangan — "wajah ibu di pagi hari"
Tau nggak kenapa aku milih bayaran kayak gitu? Bukan karena mau dramatis. Bukan biar kelihatan romantis-gombal gitu. Soalnya di dunia yang nulisin aturan, yang paling mahal itu bukan darah — darah sih gampang ditambel. Bukan juga usia — usia justru paling gampang dibikin berharga.
Yang paling mahal itu detail kecil yang kalau ilang, kamu nggak bakal sadar sebelum telat.
Pas aturan itu kepasang, aku pasti kehilangan wajah ibu di pagi hari. Nanti, kalau aku ketemu dia lagi, aku masih tau namanya, wajahnya, suaranya — tapi nggak akan pernah inget gimana pagi-pagi dia bikin aku ngerasa bukan cuma bangun, tapi ngerasa pulang.
Nah, itulah tandanya. Orang yang bisa bayar pake hal kayak gitu bukan cuma kuat — dia bahaya. Soalnya dia tau harga sebuah pikiran.
Dan orang kayak gitu nggak boleh lepas dari pantauanku.
Empat tahun lagi. Aku dua belas.
Kampung tempatku gede namanya "Fallowfield", tapi aku selalu manggilnya "The Fallow" — tanahnya cuma mau ditanamin setengah tahun; setengah tahun sisanya cuma batu, dan di sana nggak ada yang bisa dikerjain.
Bangunan paling tinggi di Fallowfield: menara pengawas magitech yang isinya enam lantai, dengan mesin di dalemnya yang berdengung. Di sinilah, tiap malam abis pasar tutup, aku duduk di atap menara sambil ngeliatin dunia.
Dari ketinggian situ, Altheria kelihatan jelas. Bukan indah — jelas. Kamu bisa baca siapa yang bergerak, siapa yang diem, siapa yang sibuk pura-pura.
Kota terdekat, Hothwood, nyala di kejauhan. Gerbang langit masih berdiri di atasnya — cincin gede yang diem. Empat tahun. Gerbang itu nggak gerak. Ringan. Nggak ada yang ngerti lagi apa yang harus dilakukan sama gerbang itu.
Dan di bawah semua itu — di pasar gelap Hothwood, di dermaga puing, di kedai tempat nyamar — ada bisik-bisik soal organisasi yang "tau segalanya". Namanya disebut silih berganti, dan kadang nyangkut ke satu kata yang pernah kudenger di kehidupan lamaku.
"Nocturne."
Nggak. Organisasi itu belum ada — aku yang belum bentuk.
Mereka cuma takut. Rasa takut kayak gitu gampang dikasih nama.
Aku senyum tipis. Itulah yang kuinginin.
"Bisnis resmi, tiap hari, jam sama, tempat sama," Echo mulai. "Rekon baru empat koma tiga persen. Kecepatan yang nggak masuk akal."
"Karena aku yang ngatur kecepatannya," jawabku.
"Kau nggak nguasai sistem."
"Emang nggak perlu. Aku cuma perlu bikin sistem mikir kalau aku kerja sama sama dia, biar sistem nggak ganggu aku."
Echo diem.
"Ada kabar dari gerbang tadi siang," lanjutku. "Dua siswa kelas itu pindah ke Hothwood."
"Mereka dari bumi, tanpa ingatan utuh soal bumi yang sama."
"Bukan itu masalahnya." Aku lipet lengan. "Masalahnya: kenapa dari tiga puluh, cuma dua yang dibiarin nyangkut di kota kecil kayak gini, sementara sisanya nyebar."
"Terus, apa kepentinganmu?"
"Belum tau." Aku jelasin pelan sambil ngeliatin kota. "Makanya, aku mulai bangun jaringan orang — bukan pahlawan, bukan bangsawan. Orang yang kerja di bawah meja, di bawah telinga, di balik pintu. Orang yang bisa liat dan denger, tapi nggak pernah nyebarin kabar."
"...Rencana itu butuh malam yang panjang."
"Buat apa nunggu malam?" Aku ngeliat langit yang mulai terang. "Rencana itu cuma butuh satu orang yang nggak nutup telinganya."
[JENDELA KARAKTER — LISA (UMUR 12)]
[Tinggi: mungil, sebaya Ashira, selalu terlihat lelah]
[Rambut: gelap, kusut, tak pernah rapi]
[Mata: honey-amber — tajam, awas, nggak pernah ketinggalan gerakan orang]
[Pakaian: lusuh, tangan kecil dan kasar — bekas kerja]
[Kekuatan: belum terlihat — hanya mata yang tidak pernah tidur]
Malam berubah terang, dan di pojok pasar, aku liat cewek kecil seumuran yang sibuk nyuci piring di depan warung makan.
Rambutnya kusut. Bajunya lusuh. Tangannya kecil dan kasar.
Tapi matanya gerakin ngikutin orang-orang secepat anjing pelacak, dan berenti tiap ada yang ngangkat tangan sebisanya curigaan.
Pekerja malam. Itu tipe orang yang bisa kupake.
Di sanalah aku jatuhin pilihan.
Rencana pertama "NOCTURNE" mulai terbentuk di kepalaku. Pelan, tapi pasti.
"...Siapa namamu?"
Cewek itu nengok. Gerakannya cepet, siaga — kebiasaan orang yang sering dijagain tempat sempit, walau dia sendiri nggak sadar itu kebawa.
"Aku Lisa," katanya. "Ada masalah?"
Aku ngangguk pelan, mikir-mikir dulu. "Kalau kamu ngikut aku, hidupmu bakal lebih baik dari sekarang. Ada satu syarat: selama aturanku jalan, kamu nggak boleh nyebut nama itu keras-keras di depan gerbang langit."
"Kenapa?"
"Karena pas pintu itu kebuka," jawabku, pake senyum yang nggak pernah beneran keliatan, "kamu bakal ngebangunin seseorang yang gak sabaran banget."
Dan di bawah menara magitech yang terus berdengung, di sore pertama Altheria yang beneran kujalani, dua bocah kecil bikin kesepakatan. Nggak ada satu pun dari tiga puluh Pahlawan Kelas Bumi yang sadar.
[SYSTEM NOTICE]
KENANGAN PULIH 1 — "WAJAH IBU DI PAGI HARI"
SISA REKON: 4,7%
- AKHIR BAB 1 -