FALLEN RULE
Sesuaikan nyaman membaca

Bab 2

Jaringan Bayangan

[SYSTEM NOTICE]

STATUS: JIWA "THE FALLEN ONE" — REKONSILIASI BERLANJUT
REKON: 5,1%
CATATAN: Jaringan pertama aktif. Belum ada yang bisa menyebut namamu luar-luar.

Malam, dan kampung udah diem. Aku duduk di atap menara, kayak biasa. Dari bawah, orang cuma liat siluet bocah di ketinggian, dan kebanyakan milih anggap itu penjaga shift yang lagi malas.

Tangga belakang ngelangkah pelan. Lisa naik — cewek yang udah setahun ngikut aku, dan udah hafal jalan masuk tanpa nyala.

Dia duduk di sebelahku, ngatur napas dulu.

"Masalahmu bukan gerbangnya," kata Lisa, masih setengah ngos-ngosan.

"Emang apa?"

"Masalahmu satu orang di antara pahlawan itu."

Aku nengok sekarang.

"Dua siswa pindah ke Hothwood — yang diumumin minggu lalu. Satu cewek, seru-seruan. Dia sibuk pamer api di telapak tangan ke tiap orang yang lewat, dan orang-orang seneng, jadi aman. Yang kedua datar. Diem. Dia ngamatin."

"Ngamatin apa?"

"Aku," kata Lisa. "Bukan pasar yang dia itung. Aku."

Sejak setahun itu, jaringan kecil udah jalan. Kata "NOCTURNE" nggak pernah dipake keras-keras di luar atap ini — cuma jadi semacam tanda tangan versi pendek yang Lisa pake buat kenalan pura-pura. Orang yang kerja deket meja, deket pintu, deket biaya — mereka nggak tau kalau lagi kerja buat siapa. Cukup tau: dengar, catat, sebar cuma yang disuruh.

Itu alur yang paling aman. Tapi, kata Echo, tiap jalan yang aman mulai dari satu titik yang nggak kelihatan. Dan titik itu lagi-lagi di Hothwood.

"Terus?" aku nggak buru-buru. "Rosaknya di mana?"

"Dia nongkrong di kedai tiap sore. Sama cewek yang tadi. Satu meja, dua kursi, tapi cuma satu yang ngomong. Dia pesen satu teh, dinginin, nggak diminum sampe abis."

"Bisa jadi cuma soal selera."

"Terus dia ngeliat ke arahku." Lisa berenti sebentar. "Dari jarak segitu, orang nggak bakal napak. Tapi dia napak — dia nyampein, kalau aku pura-pura mindahin piring, mataku yang gerak duluan. Di luar dugaan, dia nggak bilang apa-apa. Dia cuma nulis sesuatu di kertas, lipet rapi, taruh di atas meja pas dia pulang."

Aku nggak ngejar topik itu. Di pojok atap, dari dalam bayangan, Echo nggerak pelan — hal yang jarang dia lakuin abis "batal dibuang".

[JENDELA KARAKTER — RAMA (PAHLAWAN KELAS BUMI, PINDAH KE HOTHWOOD)]
[Tinggi: ±172 cm — postur anak yang biasa diperhatikan perempuan]
[Rambut: hitam, pendek, berantakan tipis]
[Mata: cokelat gelap — tenang, dan ada keletihan yang nggak wajar buat orang yang baru nyemplung ke dunia baru]
[Pakaian: seragam kelas Bumi yang udah lusuh, ditambah jaket tebal seadanya]
[Kekuatan: belum ditunjukkan — salah satu dari tiga puluh Pahlawan Kelas Bumi]

"Kau pernah denger nama itu di mulut orang?" tanya Echo. Suaranya datar, dari dalam bayangan.

"Banyak. Semua bilang beda-beda."

"Tapi satu nama yang sama: Nocturne." Echo berhenti sebentar. "Kau ngira kamu yang bentuk organisasi itu."

"Memang."

"Bukan." Kata-katanya lembek tapi tegas. "Nama itu udah ditulis di kehidupan "sebelum". Kau cuma ngulang nama yang udah ditulis orang lain."

Aku nggak nyambung lagi. Karena urusan nama, urusan hidup "sebelum", itu dua hal yang nggak pernah kuajak ngomong.

"Terus?"

"Terus, sekarang ada satu dari tiga puluh nama yang ngelihat apa yang boleh dilihat orang biasa. Dia dari bumi. Dia bukan bagian dari gerbang, dari sihir, dari kerajaan. Dia nyampein ke Hothwood — kota yang gerbangnya berdiri di atas atap tempat kau duduk. Itu bukan kebetulan."

"Kesimpulan yang nggak ada buktinya."

"Kesimpulan cuma butuh satu bukti," kata Echo. "Dia baru aja ngasih."

Aku diem. Di bawah, mesin magitech terus berdengung.

"Ada yang masih ingat namaku," kataku pelan.

"Atau yang nggak pernah lupa."

Malam berikutnya, kertas itu nemuin aku.

Lisa bawanya abis tutup pasar. Selembar, dilipet, masih bau kedai. Di dalemnya cuma satu kalimat, tulisan tangan orang yang baca beneran:

"Yang sering duduk di atas menara — makan siang di kedai depan gerbang. Jumat. Aku nunggu."

Bukan ancaman. Bukan teka-teki. Sebuah undangan, ditulis orang yang ngamatin hal yang nggak seharusnya bisa diamatin.

Di bawah atap, mesin magitech berdengung. Di langit, buat pertama kalinya dalam empat tahun, gerbang langit — berkedip.

Sekali. Pelan. Dan diem lagi.

— AKHIR BAB 2 —